Berita

Kupas Tuntas Teknik Pemberi Keterangan Ahli

Senin Pahing, 1 Juli 2019 14:37 WIB 191

foto
Nur Wahyuni Purwaningsih, SH menyampaikan materi pelatihan

Jumat (28/06) Bertempat di Aula, Inspektorat Daerah Kabupaten Bantul menyelenggarakan Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) dengan Kupas Tuntas Teknik Pemberi Keterangan Ahli di Pengadilan. Peserta pelatihan terdiri dari Sekretaris, Inspektur Pembantu, Kepala Sub Bagian, Jabatan Fungsional Auditor, dan Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintah Daerah (P2UPD). Narasumber oleh Nur Wahyuni Purwaningsih, SH (Pengacara).

“Saksi Ahli adalah Saksi yang menguasai keahlian tertentu menurut pasal 56 KUHAP, “ jelas Nur Wahyuni Purwaningsih. Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya. Definisi Saksi Ahli/Keterangan ahli menurut Pasal 1 angka 28 KUHAP  : Keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Dalam perkara pidana, keterangan ahli diatur dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”) yang menyatakan bahwa alat bukti yang sah dalam pengadilan pidana salah satunya adalah keterangan ahli. Lebih lanjut Pasal 186 KUHAP yang mengatakan bahwa keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Dalam kitab hukum Indonesia, salah satunya KUHAP tidak mengatur khusus mengenai apa syarat didengarkannya keterangan ahli dalam pemeriksaan di pengadilan. Adapun yang disebut dalam KUHAP adalah “selama ia (yang menjadi saksi ahli) memiliki ‘keahlian khusus’ tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana dan diajukan oleh pihak-pihak tertentu, maka keterangannya bisa didengar untuk kepentingan pemeriksaan”. Keahlian Khusus tersebut dapat diperoleh seseorang baik melalui pendidikan formal maupun non-formal, dan bisa juga melalui sertifikasi dalam bidang terkait keahlian serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki.

Menurut Debra Shinder (2010), yang mengungkapkan beberapa faktor dan kriteria yang dapat digunakan sebagai syarat  menjadi saksi ahli, antara lain adalah :

  1. Gelar pendidikan tinggi atau pelatihan lanjutan di bidang tertentu;
  2. Mempunyai spesialisasi tertentu;
  3. Pengakuan sebagai guru, dosen, atau pelatih dibidang tertentu;
  4. Lisensi Profesional, jika masih berlaku;
  5. Ikut sebagai keanggotaan dalam suatu organisasi profesi; posisi kepemimpinan dalam organisasi tersebut lebih bagus;
  6. Publikasi artikel, buku, atau publikasi lainnya, dan bisa juga sebagai reviewer. Ini akan menjadi salah satu pendukung bahwa saksi ahli mempunyai pengalaman jangka panjang;
  7. Sertifikasi teknis;
  8. Penghargaan atau pengakuan dari industri.